PENGUJIAN
HIPOTESIS SPEED INTERNET
Taupik Gunawan
(1406126)
Sekolah Tinggi
Teknologi Garut
Jl. Mayor
Syamsu No. 1 Jayaraga Garut 44151 Indonesia
Email :
1406126@sttgarut.ac.id
ABSTRAK - Speedtest adalah aplikasi dari Ookla yang digunakan untuk mengetahui
kecepatan maksimal internet dalam mendownload dan mengupload. Aplikasi ini
sudah dahulu tersedia dalam versi PC di alamat speedtest.net.
Speedtest.net adalah sebuah situs yang menyediakan pengujian kecepatan
koneksi internet yang disediakan oleh perusahaan asal Kalispell, Montana,Amerika
Serikat, Ookla. Situs ini berjalan mulai tahun 2006. Sebanyak 20 juta
pengguna internet mengetes kecepatan internetnya melalui situs ini setiap
bulannya. Situs ini dapat diakses melalui perangkat apa pun asalkan mendukung.
Kata
Kunci – Online; Aplikasi;
Pengujian.
1.
Pendahuluan
Di dalam laporan ini penulis menggunakan
speedtest.net untuk mengukur kecepatan
hipotesis 2 kelomplok jaringan yang dibedakan dari jaringan pertama
menggunakan wifi tethring dan satunya lagi menggunakan data celluler. Dengan
uji kecepatan dari ping, download dan upload, sebanyak masing – masing 10 kali
tes dalam waktu yang sama. Tes ini dihitung dengan rumus Pengujian Hipotesis
sebagai berikut :
2.
Landasan Teori
Berikut ini adalah hasil dari tes yang
telah dilakukan yang menghasilkan ping, download, dan upload sebanyak 20 kali :
-
Tethering
Ping
|
Download
|
Upload
|
|
39.1
|
1.906
|
1.423
|
|
S
|
29.96461
|
0.723651
|
0.590876
|
-
Data
Celluler
Ping
|
Download
|
Upload
|
|
64.2
|
3.226
|
1.529
|
|
S
|
12.52376
|
1.783182
|
0.270615
|
Kerangka Kerja
Dari hasil di atas akan dilakukan
pengujian hipotesis dari setiap akses internet seperti berikut :
1.
Ping
Dari 10 kali percobaan speedtest ping,
apakah rata – rata kecepatan internet menggunakan data celluler lebih lambat
dari menggunakan tethring ?
1.
Ho
: mc = mk , artinya rata-rata
kecepatan kedua data tersebut sama besar
2.
Ho
: mc < mk,
artinya rata-rata keceptana tethering lebih lambat di
banding Data Celluler.
3.
Taraf
nyata = 5 %
4.
Wilayah kritis
Wilayah kritis
5.
Statistic
hitung :
n
|
Tethring
|
Data Celluler
|
39.1
|
64.2
|
|
S
|
29.96461
|
12.52376
|
6.
keputusan : tolak Ho
; artinya rata-rata kecepatan ping data celluler lebih cepat dari
tethring pada taraf 5 %.
2.
Download
Dari 10 kali percobaan speedtest
Download, apakah rata – rata kecepatan internet menggunakan tethring lebih
lambat dari menggunakan data celluler ?
1.
Ho
: mc = mk , artinya rata-rata
kecepatan kedua data tersebut sama besar
2.
Ho
: mc < mk,
artinya rata-rata keceptana Data Celluler lebih lambat
di banding Tethering.
3.
Taraf
nyata = 5 %
4.
Wilayah kritis
Wilayah kritis
5.
Statistic
hitung :
n
|
Data Celluler
|
Tethring
|
3.226
|
1.906
|
|
S
|
1.783182
|
0.723651
|
6. keputusan : tolak Ho ; artinya rata-rata
kecepatan download tethring lebih cepat dari data celluler pada taraf 5 %.
3.
Upload
Dari 10 kali percobaan speedtest upload,
apakah rata – rata kecepatan internet menggunakan tethring lebih lambat dari
menggunakan data celluler ?
1.
Ho
: mc = mk , artinya rata-rata
kecepatan kedua data tersebut sama besar
2.
Ho
: mc < mk,
artinya rata-rata keceptana Data Celluler lebih lambat
di banding tethering.
3.
Taraf
nyata = 5 %
4.
Wilayah kritis
Wilayah kritis
5.
Statistic
hitung :
n
|
Data Celluler
|
Tethring
|
1.529
|
1.423
|
|
S
|
0.270615
|
0.590876
|
6. keputusan : Terima Ho ; artinya rata-rata
kecepatan Upload tethring tidak lebih cepat dari data celluler pada taraf 5 %
4. Kesimpulan
Dari data diatas
dapat disimpulkan bahwa kecepatan akses internet Data Celuler dan Tethring
ping, download, dan upload tidak menentu pada taraf nyata 5 %.
Komentar
Posting Komentar